Tertidur Semalam Tanpa Sadar Sehari
Malam itu, di bawah cahaya lampu kota yang berpendar sendu, ia kembali pada kebiasaan lama—sebuah kebiasaan yang pernah ditinggalkannya dengan susah payah. Ia sadar apa yang dilakukan tak pantas, namun malam itu kesadaran seolah sengaja diredam. Ada luka dalam dada yang ingin ia diamkan, ada beban yang ia coba hapus dengan cara yang tak bijak. Di tengah hiruk pikuk yang berpura-pura bahagia, ia menenggelamkan diri dalam suasana semu. Tawa terdengar di sekitarnya, tetapi batinnya justru semakin hampa. Ia mencari ketenangan di tempat yang salah—pelarian yang menenangkan sesaat, namun menambah perih di kemudian hari. Ketika pagi datang, tubuhnya terbaring lemah di antara sisa malam. Waktu berlalu tanpa ia sadari; sehari penuh lenyap begitu saja. Ia tertidur semalam tanpa sadar sehari. Ketika akhirnya membuka mata, yang tersisa hanyalah diam, sesal, dan kesadaran yang datang terlambat. Seolah seluruh dunia menuntut penjelasan: Mengapa engkau kembali ke jalan yang dulu menyakitimu? Banya...