Tertidur Semalam Tanpa Sadar Sehari
Malam itu, di bawah cahaya lampu kota yang berpendar sendu, ia kembali pada kebiasaan lama—sebuah kebiasaan yang pernah ditinggalkannya dengan susah payah. Ia sadar apa yang dilakukan tak pantas, namun malam itu kesadaran seolah sengaja diredam. Ada luka dalam dada yang ingin ia diamkan, ada beban yang ia coba hapus dengan cara yang tak bijak.
Di tengah hiruk pikuk yang berpura-pura bahagia, ia menenggelamkan diri dalam suasana semu. Tawa terdengar di sekitarnya, tetapi batinnya justru semakin hampa. Ia mencari ketenangan di tempat yang salah—pelarian yang menenangkan sesaat, namun menambah perih di kemudian hari.
Ketika pagi datang, tubuhnya terbaring lemah di antara sisa malam. Waktu berlalu tanpa ia sadari; sehari penuh lenyap begitu saja. Ia tertidur semalam tanpa sadar sehari. Ketika akhirnya membuka mata, yang tersisa hanyalah diam, sesal, dan kesadaran yang datang terlambat. Seolah seluruh dunia menuntut penjelasan: Mengapa engkau kembali ke jalan yang dulu menyakitimu?
Banyak yang telah terbuang malam itu—tenaga, waktu, dan hal-hal berharga yang tidak mudah digantikan. Semua sirna demi pelarian sesaat dari kenyataan yang seharusnya dihadapi dengan kepala tegak. Ia tahu, bukan kesenangan yang ia cari, melainkan pelupaan dari luka yang tak terselesaikan.
Dalam keheningan siang itu, ia menatap dirinya sendiri di depan cermin. Mata yang sayu dan wajah yang letih memantulkan kebenaran yang sulit dihindari: ia sedang jauh dari dirinya yang sebenarnya. Dari sanalah penyesalan tumbuh, bukan karena kehilangan sesuatu yang lahiriah, melainkan karena kehilangan arah batin yang pernah ia jaga.
Lalu terlintas dalam benaknya sebuah ayat yang dahulu pernah ia dengar dalam majelis kecil di sebuah masjid:
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar [39]: 53)
Ayat itu menggema lembut di hatinya. Ia terdiam lama, menatap langit-langit kamar yang sunyi, menyadari bahwa sebesar apa pun kesalahannya, pintu ampunan tak pernah tertutup. Ia tak perlu berlari dari luka, karena yang sesungguhnya ia butuhkan adalah kembali—bukan kepada dunia, tapi kepada Tuhan.
Lalu teringat pula sabda Nabi ﷺ:
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi, no. 2499)
Kata taubat terasa hidup sore itu, seperti bisikan lembut di tengah kesunyian. Ia tak ingin sekadar menyesal, tapi sungguh-sungguh berubah. Ia sadar, tidak ada pelarian yang benar-benar menenangkan selain mendekat kepada Sang Pencipta.
Hari itu, setelah semalam tanpa sadar, ia akhirnya benar-benar sadar: bahwa tidur terpanjang manusia bukanlah yang tanpa mimpi, melainkan yang tanpa arah. Dan kebangkitan paling berharga bukan sekadar membuka mata, tapi membuka hati untuk menerima kenyataan dengan lapang dada.
Malam yang lalu telah pergi, namun meninggalkan jejak yang dalam. Dari jejak itulah ia belajar, bahwa Tuhan tidak menolak siapa pun yang datang dengan hati tulus. Ia mulai menata langkah, perlahan tapi pasti—karena ia tahu, setiap kesalahan yang disesali dengan sungguh-sungguh dapat menjadi pintu menuju kebaikan.
Dan dari kesadaran itu, lahirlah doa yang sederhana namun kuat:
“Ya Allah, ajarilah aku untuk tidak lagi lari dari hidup, tapi menghadapi setiap luka dengan iman dan sabar.”
#Kediri11/10/25

Komentar
Posting Komentar