Pemberontakan Itu Kekonyolan Diri



Pemberontakan selalu tampak gagah di permukaan. Ia hadir dengan wajah murka, dengan slogan-slogan yang berapi, dan dengan tekad untuk mengubah sesuatu yang dianggap salah. Namun, jika ditelisik lebih dalam, tak semua pemberontakan lahir dari kebenaran; sebagian justru tumbuh dari kesombongan diri yang tak tersadari — semacam kegelisahan yang mencari pembenaran di luar dirinya.

Manusia memang makhluk yang tak pernah puas. Dalam dirinya selalu ada pergulatan antara menerima dan menolak, antara tunduk dan melawan. Tapi, dalam setiap penolakan itu, perlu ada jeda untuk bertanya: apa yang sebenarnya sedang aku lawan? Karena sering kali, musuh yang kita hadapi bukanlah sistem, bukan orang lain, melainkan bayangan diri sendiri.

Albert Camus dalam The Rebel menulis bahwa pemberontakan lahir dari kesadaran akan absurditas hidup — ketika manusia menyadari ketidakseimbangan antara keinginan dan kenyataan. Namun, ketika kesadaran itu tidak diiringi kebijaksanaan, pemberontakan berubah menjadi kekonyolan. Ia menjadi perlawanan yang kehilangan arah, seperti kapal yang berlayar tanpa kompas, mengira sedang menuju kebebasan padahal terjebak dalam pusaran egonya sendiri.

Dalam ruang sosial kita hari ini, pemberontakan sering tampil dalam bentuk kemarahan kolektif. Dunia digital mempermudah setiap orang untuk berteriak, menghakimi, dan menolak apa pun yang tak sejalan dengan pandangannya. Orang merasa menjadi pahlawan kebenaran hanya karena berani menentang sesuatu di layar gawai. Padahal, banyak dari itu hanyalah bentuk pelarian dari ketidakmampuan memahami diri.

Pemberontakan yang tidak dilandasi kedalaman berpikir akan melahirkan kekacauan baru. Revolusi tanpa moral hanya mengganti satu bentuk ketidakadilan dengan bentuk yang lain. Sejarah mencatat banyak gerakan besar yang akhirnya tumbang bukan karena musuh, melainkan karena keserakahan dan ego pengikutnya sendiri.

Sebaliknya, pemberontakan sejati justru berlangsung dalam diam — perang sunyi melawan hawa nafsu, kemalasan, dan keangkuhan pribadi. Dalam filsafat sufisme, perjuangan paling berat bukanlah melawan tirani luar, tetapi menaklukkan diri sendiri. Nabi Muhammad ﷺ bersabda setelah kembali dari medan perang, “Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Ketika sahabat bertanya apa itu jihad besar, beliau menjawab, “Jihad melawan hawa nafsu.”

Pemberontakan terhadap diri inilah yang sejatinya membebaskan. Ia tidak menuntut pengakuan, tidak memerlukan sorak-sorai, karena medan perangnya adalah hati. Di dalamnya, manusia belajar mengenali kelemahan dan mengubahnya menjadi kekuatan. Ia menolak untuk diperbudak oleh amarah, prasangka, dan rasa benar sendiri.

Kekonyolan terjadi ketika seseorang berontak hanya untuk membuktikan keberadaannya. Ia menolak bukan karena kebenaran, tapi karena egonya tersinggung. Ia ingin diakui, bukan dimengerti. Padahal, keberanian sejati bukanlah menentang dunia, melainkan menundukkan diri di hadapan kebenaran yang lebih besar dari dirinya.

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia memang akan sampai pada titik di mana pemberontakan terasa perlu. Tetapi di titik itu pula, ia harus belajar membedakan antara perlawanan yang mencerahkan dan perlawanan yang menyesatkan. Tidak semua api adalah cahaya. Ada yang membakar, ada yang menerangi.

Maka sebelum berteriak “melawan”, barangkali kita perlu berdiam sejenak, menatap ke dalam, dan bertanya: Apakah aku sedang memperjuangkan kebenaran, atau sekadar membela egoku?

Sebab sering kali, yang kita lawan bukanlah ketidakadilan dunia — melainkan bayangan diri sendiri yang belum berdamai. Dan di situlah letak kekonyolannya.

#Refleksi42

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRANSFORMASI PENDIDIKAN DITENGAH COVID-19

2021-2022