UJIAN KONSISTENSI PADA KEBENARAN
Ada sebuah kapal perang yang sedang menjelajah samudera di tengah cuaca yang buruk. Menjelang malam, pada jalur haluan kapal, terlihat sinar terang menghadang. Sang kapten kapal bertanya kepada awak pengintai, “Apakah sinar itu dalam posisi tetap atau bergerak mundur?”
“Tetap kapten,” jawab awak pengintai.
Mengantisipasi terjadinya tabrakan, sang kapten berseru
kepada pemberi isyarat, “Beri isyarat kepada kapal itu. Katakan agar mereka
membelokkan arah 20 derajat. Jika tidak, kita akan saling bertabrakan.”
Isyarat itu disampaikan. Setelah itu datang isyarat balasan:
“Kapal Anda yang harus mengubah haluan 20 derajat.”
Sang kapten menganggap ini sebagai tantangan. Dia
memerintahkan, “Kirim pesan lagi kepada kapal itu: ‘Ini perintah Kapten. Ubah
arah Anda 20 derajat.’”
Sekali lagi datang balasan isyarat: “Saya Kelasi kelas dua.
Kapal Anda harus segera berubah haluan 20 derajat.”
Menerima balasan seperti itu, sang kapten naik pitam. Di
benaknya: seorang kelasi kelas dua telah berani menolak perintah seorang Kapten
Kapal Perang. Tidak pernah sebelumnya ada pihak lain yang menguji
konsistensinya, apalagi seorang Kelasi kelas dua. Ia membentak keras, “Kirimkan
pesan: ‘Ini kapal perang! Ubah arah Anda 20 derajat sekarang juga!”
Datang balasan singkat: “Ini mercusuar.” Lalu Sang Kapten mengubah haluan kapal perangnya.
Sepenggal
kisah diatas mengambarkan bahwa Konsistensi diuji dari makna ganda. Baik
seorang yang keras hati maupun yang keras kepala, keduanya memiliki
konsistensi. Yang membedakan keduanya adalah yang satu mempertahankan prinsip,
yang satu lagi mempertahankan pendapat pribadi. Yang satu bersandar pada
Kebenaran, yang satu lagi bersandar pada apa yang dianggapnya benar.
Seandainya konsistensi selalu berarti baik, tentu saja Umar
Bin Khattab tidak akan pernah mengubah niatnya untuk memenggal kepala Nabi
Muhammad. Namun dia tidak konsisten dan justru mengurungkan niatnya membunuh
Nabi. Sejak itu Umar telah mengubah haluan hidupnya, dari musuh nomor satu
menjadi pembela utama Nabi dan ajarannya. Dia mengorbankan konsistensinya demi
sesuatu yang lebih besar. Sejarah mencatat, dia menjadi pemimpin terkemuka
justru berawal dari keputusannya yang berani untuk melanggar konsistensi
pribadi, demi tunduk pada prinsip yang lebih besar yaitu pada Kebenaran.
Hikmah dari gambaran dan kisah diatas yang dapat kita pelajari adalah kita sepatutnya harus menjadi pribadi yang memiliki ketegasan sikap, tidak ragu, dan bermuka dua sebab Keraguan tersebut akan berpotensi memunculkan kemunafikan, suatu sikap menduakan kebenaran dan amat ditentang dalam Islam ,hal itu seperti yang tertulis dalam Alquran pada surat As-Shaff ''Amat besar dosanya di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerjakannya.'' (QS As-Shaff [61]: 3).
#mycho
Mantap brother,,,like this👍
BalasHapus